Home » KOLOM PERTAANYAAN » MENGAMANKAN GEREJA SAAT NATALAN

MENGAMANKAN GEREJA SAAT NATALAN

Liputan6.com, Jakarta: Polisi siap mengamankan ibadah dan perayaan hari Natal dan tahun baru di seluruh tanah air. Melalui operasi Lilin 2011 yang akan digelar selama 10 hari, Mabes Polri mengerahkan 83.555 personil di seluruh Indonesia.

Lebih dari 83 Ribu Polisi Amankan Natal dan Tahun Baru Untuk pengamanan kali ini Polri lebih fokus mencegah terjadinya anarkhisme yang belakangan banyak terjadi di wilayah Indonesia, selain mencegah terjadinya kemungkinan lainnya. “Ancaman anarkhismetentunya menjadi atensi dalam momen merayakan Natal dan tahun baru tahun ini,” ujar Kapolri, Jenderal Timur Pradopo dalam amanatnya sebagai Inspektur Apel dan Gelar Pasukan Operasi Lilin 2011, di Lapangan Silang Monas, Kamis (22/12).

Menurutnya, untuk mengantisipasi berbagai tindak anarkisme tersebut, perlu dirumuskan pengamanan dengan cara efektif dan antisipatif. Terdapat 14 prioritas provinsi yang perlu diamankan, terutama di wilayah provinsi Papua, Sulawesi Utara, Maluku, Banten, DKI Jakarta, DI Yogyakarta, dan Jawa Barat.

http://id.berita.yahoo.com/lebih-dari-
83-ribu-polisi-amankan-natal-d
an-025622086.html

GP Ansor Siap Amankan Perayaan Natal dan Tahun Baru 2012

JAKARTA – Gerakan Pemuda (GP) Ansor akan turut serta menjaga keamanan menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru 2012.

Ketua GP Ansor, Nusron Wahid mengatakan, pihaknya telah diminta untuk berkoordinasi dengan sejumlah gereja di seluruh Indonesia untuk mengamankan hari raya sakral umat Kristiani tersebut.

“Berkaitan dengan persiapan perayaan Natal dan Tahun Baru, kami pimpinan pusat GP Ansor sudah berkoordinasi di kota-kota strategis untuk bersama bahu membahu, terutama dengan aparat kepolisiandi semua level. Kemudian kita berkoordinasi dengan pihak otoritas di gereja-gereja untuk bersama-sama bertanggung jawab untuk menjaga iklim yang kondusif dalam rangka membantu warga menjalani ibadah misa dan natal,” ujar Nusron di Kantor Pimpinan Pusat GP Ansor, Jakarta Pusat, Kamis (22/12/
2011) malam.

Ditambahkannya, kegiatan ini merupakan tradisi dari GP Ansor, yang merupakan organisasi sayap dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam rangka menciptakan suasana kerukunan antar umat beragama.

“Ini semua sudah kita lakukan bertahun-tahun. Tidak hanya Natal dan Tahun Baru, tapi juga event yang lain untuk menciptakan rasa aman dan kerukunan antar umat beragama,” jelasnya.

Nusron juga mengatakan, pihaknya telah mensinyalir beberapa titik di kota-kota besar di Indonesia yang berpotensi untuk dijaga ketat keamanannya, khsususnya di Jabodetabek. “Terutama di GKI Yasmin di Bogor, kemudian gereja di Bekasi, Jogja, Solo, Semarang, Bandung, Malang, Jember, Surabaya dan beberapa lainnya,” tuturnya.

Pihaknya juga telah dimintai bantuan oleh beberapa gereja Katholik dan Protestan di Jakarta yang tersebar dalam 49 titik.

“Kita siapkan Banser. Di Jakarta kita sudah mendapatkan surat permohonan bantuan dari elemen gereja Katholik dan Protestan sebanyak 49 titik, ada juga gereja yang tidak minta kita, tapi tetap kita pantau. Intinya kita dalam kondisi early warning system,” pungkasnya.
http://news.okezone.com/read/2011/
12/22/338/546134/gp-anshor-siap-amankan-perayaan-natal-dan-tahun-baru-2012

PERTANYAAN
Bolehkah seorang Muslim mengamanka
n kegiatan Natal ?

PERTIMBANGAN
Dalam khazanah islam, sebuah Negara dapat dianggap sebagai Negara islam jika memenuhi salah satu dari tiga criteria :

• Negara yang batas-batas serta perkembangannya dilakukan oleh kaum muslimin seperti Iraq. Pada bentuk Negara semacam ini, orang-orang non muslim dilarang untuk membangun sarana peribadatannya atau melakukan aktifitas yang menyimpang dengan Islam seperti mengkonsumsi miras, babi dll, bahkan Presiden melakukan perjanjian dengan mereka agar mereka dapat mentaati hal-hal yang dilarang diatas, bila tidak disepakati maka perjanjian dianggap batal, berdasarkan hadits nabi :

ﻻ ﺗﺒﻨﻰ ﺍﻟﻜﻨﻴﺴﺔ ﻓﻲ ﺍﻻﺳﻼﻡ ﻭﻻ ﻳﺠﺪﺩ ﻣﺎ ﺧﺮﺏ ﻣﻨﻬﺎ

“Tidak diperbolehkan membangun gereja dalam Negara islam dan tidak diperbolehkan merenovasi gereja yang telah rusak” (HR. Ad-Dailaami dan Ibn ‘Asaakir)

• Negara yang telah ditundukkan oleh orang-orang muslimin. Pada bentuk Negara semacam ini orang-orang kafir dilarang untuk membangun sarana-sar
ana peribadatan, sebab kepimilakan Negara secara absolut adalah hak muslimin.

• Negara yang direngkuh oleh orang-orang muslim dengan dasar persemakmuran (shuluh). Pada bentuk Negara semacam ini orang-orang kafir bebas untuk membangun sarana peribadatannya, sebab pada dasarnya Negara merupakan miliknya juga secara bersama-sama.

Sesuai dengan ketentuan-ketentuan Negara-negara Islam diatas, dapat disimpulkan bahwa Indonesia merupakan Negara Islam sebab Indonesia masuk dalam kategori kedua, namun yang menjadi permasalahan disini ialah bahwa azas Negara Indonesia tidak menggunakan Islam, melainkan Pancasila.

Azas Negara Indonesia yang menggunakan Pancasila, menuntut masyarakat Indonesia untuk saling menghormati antar sesama hingga pemeluk agama diberi kebebasan untuk melakukan ajaran agama mereka masing-masing. Pemerintah
memberikan jaminan keamanan kepada non-muslim atau dalam istilah lain menggunakan bahasa “kafir fii dzimmah at-ta’miin (non-muslim yang dalam jaminan keamanan).
Secara detail konsep kafir fii dzimmah at-ta’miin ialah sebagai berikut :

>> Orang kafir yang masuk Negara Islam sesuai dengan kebiasaan yang ada (tidak mencurigakan)

>> Pemerintah melarang untuk mengganggunya

>> Orang kafir merasa bahwa mereka mempunyai jaminan keamanan dari pemerintah

>> Jika nyawa orang kafir terancam, warga muslim wajib menjaga keamanannya.

JAWABAN
Dari beberapa penjelasan pertimbangan diatas, polemic dalam hal ini dapat dipecahkan dengan perincian :

• Bagi relawan tidak diperbolehkan untuk berpartisipasi mengamankan kegiatan natal kecuali saat terjadi kerusuhan yang mengancam nyawa orang-orang kafir, hal ini semata-mata untuk menyelamatkan nyawa mereka, sebab secara konsep, muslimin tidak diperbolehkan untuk mengikuti perayaan hari-hari besar orang kafir sebagaimana ungkapan Umar ra.

ﻋﻦ ﻋﻤﺮ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ : ” ﻻ ﺗﺪﺧﻠﻮﺍ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﺸﺮﻛﻴﻦ ﻓﻲ ﻛﻨﺎﺋﺴﻬﻢ ﻳﻮﻡ ﻋﻴﺪﻫﻢ ﻓﺈﻥ ﺍﻟﺴﺨﻄﺔ ﺗﻨﺰﻝ ﻋﻠﻴﻬﻢ

“Dan janganlah kalian menemui orang-orang musyrikin di gereja-gereja atau tempat-tempat ibadah mereka, karena kemurkaan Allah akan menimpa mereka.” (HR Al Baihaqi dengan sanad shahih)

• Bagi petugas keamanan diperbolehkan menjaganya untuk mengantisipasi ancaman para teroris yang mengganggu
keselamatan mereka sebagai wujud jaminan keselamatan dari Negara.

REFERNSI :
1. Al-Mausuu’ah al-Fiqhiyyah VII/25-28
2. Hasyiyah al-Jamal ala al-Minhaj X/185-186
3. Qurratul ‘Uyuun Hal 211-212
4. Bughyah al-Mustarsyidiin Hal 543
5. Tafsiir al-Fakhrur Roozy I/1124
6. al-Adaab as-Syar’iyyah Li Ibn al-Muflh al-Hambaly IV/120-122

ﺍﻟﻤﻮﺳﻮﻋﺔ ﺍﻟﻔﻘﻬﻴﺔ ﺍﻟﻜﻮﻳﺘﻴﺔ ( ج ٧ ص ٢٥-٢٨)
ﺛَﺎﻟِﺜًﺎ – ﻋَﺪَﻡُ ﺍﻟﺘَّﻌَﺮُّﺽِ ﻟَﻬُﻢْ ﻓِﻲ ﻋَﻘِﻴﺪَتهم ﻭَﻋِﺒَﺎﺩَتهمِ :
23 – ﺇِﻥَّ ﻣِﻦْ ﻣُﻘْﺘَﻀَﻰ ﻋَﻘْﺪِ ﺍﻟﺬِّﻣَّﺔِ ﺃَﻻَّ ﻳَﺘَﻌَﺮَّﺽَ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻢَﻥﻭُ ﻷَِﻫْﻞ ﺍﻟﺬِّﻣَّﺔِ ﻓِﻲ ﻋَﻘِﻴﺪَﺗِﻪْﻡِ ﻭَﺃَﺩَﺍﺀِ ﻋِﺒَﺎﺩَﺗِﻪْﻡِ ﺩُﻭﻥَ ﺇِﻇْﻬَﺎﺭِ ﺷَﻌَﺎﺋِﺮِﻩْﻡِ ، ﻓَﻌَﻘْﺪُ ﺍﻟﺬِّﻣَّﺔِ ﺇِﻗْﺮَﺍﺭُ ﺍﻟْﻜُﻔَّﺎﺭِ ﻋَﻠَﻰ ﻛُﻔْﺮِﻫِﻢْ ﺑِﺸَﺮْﻁِ ﺑَﺬْﻝ ﺍﻟْﺠِﺰْﻳَﺔِ ﻭَﺍﻟْﺘِﺰَﺍﻡِ ﺃَﺣْﻜَﺎﻡِ ﺍﻟْﻤِﻠَّﺔِ ، ﻭَﺇِﺫَﺍ ﻛَﺎﻥَ ﻫُﻨَﺎﻙَ ﺍﺣْﺘِﻤَﺎﻝ ﺩُﺧُﻮﻝ ﺍﻟﺬِّﻣِّﻲِّ ﻓِﻲ ﺍﻹِْﺳْﻼَﻡِ ﻋَﻦْ ﻃَﺮِﻳﻖِ ﻣُﺨَﺎﻟَﻄَﺖِﻩِ ﻟِﻠْﻤُﺴْﻞِﻣِﻴﻦَ ﻭَﻭُﻗُﻮﻓِﻪِ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﺤَﺎﺳِﻦِ ﺍﻟﺪِّﻳﻦِ ، ﻓَﻬَﺬَﺍ ﻳَﻜُﻮﻥُ ﻋَﻦْ ﻃَﺮِﻳﻖِ ﺍﻟﺪَّﻋْﻮَﺓِ ﻻَ ﻋَﻦْ ﻃَﺮِﻳﻖِ ﺍﻹِْﻛْﺮَﺍﻩِ ، ﻭَﻗَﺪْ ﻗَﺎﻝ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ ﻭَﺗَﻌَﺎﻟَﻰ } ﻻَ ﺇِﻛْﺮَﺍﻩَ ﻓِﻲ ﺍﻟﺪِّﻳﻦِ { ‏( 1 ‏) ، ﻭَﻓِﻲ ﻛِﺘَﺎﺏِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻷَِﻫْﻞ ﻧَﺠْﺮَﺍﻥَ : ﻭَﻟِﻨَﺠْﺮَﺍﻥَ وحاشيتاه ﺟِﻮَﺍﺭُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺫِﻣَّﺔُ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺭَﺳُﻮﻝ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻣْﻮَﺍلهم وملتهم ﻭَبيعهم ﻭَﻛُﻞ ﻣَﺎ ﺗَﺤْﺖَ ﺃَﻳْﺪِﻳﻬِﻢْ . . . ‏( 2 ‏) ﻭَﻫَﺬَﺍ ﺍﻷَْﺻْﻞ ﻣُﺘَّﻔَﻖٌ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟْﻔُﻘَﻬَﺎﺀِ ، ﻟَﻜِﻦْ ﻫُﻨَﺎﻙَ ﺗَﻔْﺼِﻴﻞٌ ﻭَﺧِﻼَﻑٌ ﻓِﻲ ﺑَﻌْﺾِ ﺍﻟْﻔُﺮُﻭﻉِ ﻧَﺬْﻛُﺮُﻩُ ﻓِﻴﻤَﺎ ﻳَﻠِﻲ :
ﺃ – ﻣَﻌَﺎﺑِﺪُ ﺃَﻫْﻞ ﺍﻟﺬِّﻣَّﺔِ :
24 – ﻗَﺴَّﻢَ ﺍﻟْﻔُﻘَﻬَﺎﺀُ ﺃَﻣْﺼَﺎﺭَ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻢَﻦﻳِ ﻋَﻠَﻰ ﺛَﻼَﺛَﺔِ ﺃَﻗْﺴَﺎﻡٍ ‏( 3 ) :
ﺍﻷَْﻭَّﻝ : ﻣَﺎ ﺍﺧْﺘَﻄَّﻪُ ﺍلمسلمونُ ﻭَ أنشؤوهُ ﻛَﺎﻟْﻜُﻮفةِ ﻭَﺍﻟْﺒَﺼْﺮِﺓَ ﻭَﺑَﻐْﺪَﺍﺩَ ﻭَﻭَﺍﺳِﻂَ ، ﻓَﻼَ ﻳَﺠُﻮﺯُ ﻓِﻴﻪِ ﺇِﺣْﺪَﺍﺙُ ﻛَﻨِﻴﺴَﺔٍ ﻭَﻻَ ﺑِﻴﻌَﺔٍ ﻭَﻻَ ﻣُﺠْﺘَﻤَﻊٍ لصلاتهم ﻭَﻻَ ﺻَﻮْﻣَﻌَﺔٍ ﺑِﺈِﺟْﻤَﺎﻉِ ﺃَﻫْﻞ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢِ ، ﻭَﻻَ ﻳُﻤَﻜَّﻨُﻮﻥَ ﻓِﻴﻪِ ﻣِﻦْ ﺷُﺮْﺏِ ﺍﻟْﺨَﻤْﺮِ ﻭَﺍﺗِّﺨَﺎﺫِ ﺍﻟْﺨَﻨَﺎﺯِﻳﺮِ ﻭَﺿَﺮْﺏِ ﺍﻟﻨَّﺎﻗُﻮﺱِ ؛ ﻟِﻘَﻮْﻝ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ : ﻻَ ﺗُﺒْﻨَﻰ ﻛَﻨِﻴﺴَﺔٌ ﻓِﻲ ﺩَﺍﺭِ ﺍﻹِْﺳْﻼَﻡِ ، ﻭَﻻَ ﻳُﺠَﺪَّﺩُ ﻣَﺎ ﺧَﺮِﺏَ ﻣِﻨْﻬَﺎ ‏( 4 ‏) ﻭَﻷَِﻥَّ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟْﺒَﻠَﺪَ ﻣِﻠْﻚٌ ﻟِﻠْﻤُﺴْﻞِﻣِﻴﻦَ ﻓَﻼَ ﻳَﺠُﻮﺯُ ﺃَﻥْ ﻳَﺒْﻨُﻮﺍ ﻓِﻴﻪِ ﻣَﺠَﺎﻣِﻊَ ﻟِﻠْﻜُﻔْﺮِ ، ﻭَﻟَﻮْ ﻋَﺎﻗَﺪَﻫُﻢُ ﺍﻹِْﻣَﺎﻡُ ﻋَﻠَﻰ ﺍلتمكنِ ﻣِﻦْ ﺫَﻟِﻚَ ﻓَﺎﻟْﻌَﻘْﺪُ ﺑَﺎﻃِﻞٌ ‏( 1 ) .
ﺍﻟﺜَّﺎﻧِﻲ : ﻣَﺎ ﻓَﺘَﺤَﻪُ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻢَﻥﻭُ ﻋَﻨْﻮَﺓً ، ﻓَﻼَ ﻳَﺠُﻮﺯُ ﻓِﻴﻪِ ﺇِﺣْﺪَﺍﺙُ ﺷَﻲْﺀٍ ﻣِﻦْ ﺫَﻟِﻚَ ﺑِﺎﻻِتفاق ؛ ﻷَِﻧَّﻪُ ﺻَﺎﺭَ ﻣِﻠْﻜًﺎ للمسلمينَ ، ﻭَﻣَﺎ ﻛَﺎﻥَ ﻓِﻴﻪِ ﺷَﻲْﺀٌ ﻣِﻦْ ﺫَﻟِﻚَ ﻫَﻞ ﻳَﺠِﺐُ ﻫَﺪْﻣُﻪُ ؟ ‏( 2 ‏) ؟ ﻗَﺎﻝ ﺍﻟْﻤَﺎلكية : ﻭَﻫُﻮَ ﻭَﺟْﻪٌ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟْﺤَﻨَﺎبلة : ﻻَ ﻳَﺠِﺐُ ﻫَﺪْﻣُﻪُ ؛ ﻷَِﻥَّ ﺍﻟﺼَّﺤَﺎبةَ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻢْ ﻓَﺘَﺤُﻮﺍ ﻛَﺜِﻴﺮًﺍ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺒِﻼَﺩِ ﻋَﻨْﻮَﺓً ﻓَﻠَﻢْ ﻳَﻬْﺪِﻣُﻮﺍﺷَﻴْﺌًﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻜَﻨَﺎئس.

ﺣﺎﺷﻴﺔ ﺍﻟﺠﻤﻞ ( ج ١٠ ص ١٨٥-١٨٦)
ﻗﻮﻟﻪ ﻭﺑﺄﻣﺮ ﺑﻤﻌﺮﻭﻑ ﻭﻻ ﻳﺸﺘﺮﻁ ﻓﻲ ﺍﻷﻣﺮ ﺑﺎﻟﻤﻌﺮﻭﻑ ﺍﻟﻌﺪﺍﻟﺔ ﺑﻞ ﻗﺎﻝ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﻭﻋﻠﻰ ﻣﺘﻌﺎﻃﻲ ﺍﻟﻜﺄﺱ ﺃﻥ ﻳﻨﻜﺮ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺠﻼﺱ ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﻐﺰﺍﻟﻲ ﻳﺠﺐ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﻏﺼﺐ ﺍﻣﺮﺃﺓ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺰﻧﺎ ﺃﻥ ﻳﺄﻣﺮﻫﺎ ﺑﺴﺘﺮ ﻭﺟﻬﻬﺎ ﻋﻨﻪ ﺍ ﻩ ﺯ ﻱ ﺍ ﻩ ﻉ ﺵ ﻗﻮﻟﻪ ﻭﻧﻬﻲ ﻋﻦ ﻣﻨﻜﺮ ﻭﺍﻹﻧﻜﺎﺭ ﻳﻜﻮﻥ ﺑﺎﻟﻴﺪ ﻓﺈﻥ ﻋﺠﺰ ﻓﺒﺎﻟﻠﺴﺎﻥ ﻓﻌﻠﻴﻪ ﺃﻥ ﻳﻐﻴﺮﻩ ﺑﻜﻞ ﻭﺟﻪ ﺃﻣﻜﻨﻪ ﻭﻻ ﻳﻜﻔﻲ ﺍﻟﻮﻋﻆ ﻟﻤﻦ ﺃﻣﻜﻨﻪ ﺇﺯﺍﻟﺘﻪ ﺑﺎﻟﻴﺪ ﻭﻻ ﻛﺮﺍﻫﺔ ﺍﻟﻘﻠﺐ ﻟﻤﻦ ﻗﺪﺭ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﻬﻲ ﺑﺎﻟﻠﺴﺎﻥ ﻭﻳﺴﺘﻌﻴﻦ ﻋﻠﻴﻪ ﺑﻐﻴﺮﻩ ﺇﺫﺍ ﻟﻢ ﻳﺨﻒ ﻓﺘﻨﺔ ﻣﻦ ﺇﻇﻬﺎﺭ ﺳﻼﺡ ﻭﺣﺮﺏ ﻭﻟﻢ ﻳﻤﻜﻨﻪ ﺍﻻﺳﺘﻘﻼﻝ ﻓﺈﻥ ﻋﺠﺰ ﻋﻨﻪ ﺭﻓﻊ ﺫﻟﻚ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻮﺍﻟﻲ ﻓﺈﻥ ﻋﺠﺰ ﻋﻨﻪ ﺃﻧﻜﺮﻩ ﺑﻘﻠﺒﻪ ﺍ ﻩ ﻣﻦ ﺍﻟﺮﻭﺽ ﻭﺷﺮﺣﻪ ﻗﻮﻟﻪ ﺇﺫﺍ ﻟﻢ ﻳﺨﻒ ﻋﻠﻰ ﻧﻔﺴﻪ ﻭﻣﺎﻟﻪ ﺇﻟﺦ ﻋﺒﺎﺭﺓ ﺷﺮﺡ ﻡ ﺭ ﻭﺷﺮﻁ ﻭﺟﻮﺏ ﺍﻷﻣﺮ ﺑﺎﻟﻤﻌﺮﻭﻑ ﺃﻥ ﻳﺄﻣﻦ ﻋﻠﻰ ﻧﻔﺴﻪ ﻭﻋﻀﻮﻩ ﻭﻣﺎﻟﻪ ﻭﺇﻥ ﻗﻞ ﻛﻤﺎ ﺷﻤﻠﻪ ﻛﻼﻣﻬﻢ ﺑﻞ ﻭﻋﺮﺿﻪ ﻛﻤﺎ ﻫﻮ ﻇﺎﻫﺮ ﻭﻋﻠﻰ ﻏﻴﺮﻩ ﺑﺄﻥ ﻳﺨﺎﻑ ﻋﻠﻴﻪ ﻣﻔﺴﺪﺓ ﺃﻛﺜﺮ ﻣﻦ ﻣﻔﺴﺪﺓ ﺍﻟﻤﻨﻜﺮ ﺍﻟﻮﺍﻗﻊ ﻭﻳﺤﺮﻡ ﻣﻊ ﺍﻟﺨﻮﻑ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻐﻴﺮ ﻭﻳﺴﻦ ﻣﻊ ﺍﻟﺨﻮﻑ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﻔﺲ ﻭﺍﻟﻨﻬﻲ ﻋﻦ ﺍﻹﻟﻘﺎﺀ ﺑﺎﻟﻴﺪ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺘﻬﻠﻜﺔ ﻣﺨﺼﻮﺹ ﺑﻐﻴﺮ ﺍﻟﺠﻬﺎﺩ ﻭﻧﺤﻮﻩ ﻛﻤﻜﺮﻩ ﻋﻠﻰ ﻓﻌﻞ ﺣﺮﺍﻡ ﻏﻴﺮ ﺯﻧﺎ ﻭﻗﺘﻞ ﻭﺃﻥ ﻳﺄﻣﻦ ﺃﻳﻀﺎ ﺃﻥ ﺍﻟﻤﻨﻜﺮ ﻋﻠﻴﻪ ﻻ ﻳﻘﻄﻊ ﻧﻔﻘﺘﻪ ﻭﻫﻮ ﻣﺤﺘﺎﺝ ﺇﻟﻴﻬﺎ ﻭﻻ ﻳﺰﻳﺪ ﻋﻨﺎﺩﺍ ﻭﻻ ﻳﻨﺘﻘﻞ ﺇﻟﻰ ﻣﺎ ﻫﻮ ﺃﻓﺤﺶ ﻭﺳﻮﺍﺀ ﻓﻲ ﻟﺰﻭﻡ ﺍﻹﻧﻜﺎﺭ ﺃﻇﻦ ﺃﻥ ﺍﻟﻤﺄﻣﻮﺭ ﻳﻤﺘﺜﻞ ﺃﻡ ﻻ ﺍﻧﺘﻬﺖ

ﻗﺮﺓ ﺍﻟﻌﻴﻦ (ﺹ ٢١١-٢١٢)
ﺳﺌﻞ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎ ﻟﻲ ﺍﻋﺘﺎﺩ ﺑﻌﺾ ﺳﻼﻃﻴﻦ ﺍﻟﺠﺎﻭﻱ ﺍﻥ ﻳﻘﺮ ﺍﻟﻜﻔﺎﺭ ﺍﻟﻐﻴﺮ ﺍﻟﻜﺘﺎﺑﻴﻴﻦ ﻭﺍﻟﻤﺠﻮﺳﻴﻴﻦ ﻓﻲ ﺑﻠﺪﻩ ﺑﻜﺬﺍ ﻭﻛﺬﺍ ﻣﻦ ﺍﻟﺪﺭﻫﻢ ﻭﺍﻟﺤﺒﻮﺏ ﻓﻲ ﻛﻞ ﺳﻨﺔ ﻭﻫﻢ ﺗﺤﺖ ﻃﺎﻋﺘﻪ ﻳﻤﺘﺜﻠﻮﻥ ﺍﻭﺍﻣﺮﻩ ﻭﻧﻮﺍﻫﻴﻪ ﻭﻳﺘﻮﺟﻬﻮﻥ ﺣﻴﺚ ﻣﺎﻭﺟﻬﻬﻢ ﻭﺍﻧﺘﻔﻊ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻮﻥ ﺑﻬﻢ ﻓﻲ ﺍﻻ ﻋﻤﺎﻝ ﺍﻟﺨﺴﻴﺴﺔ ﻭﻟﻜﻨﻪ ﻟﻢ ﻳﺄﻣﺮﻫﻢ ﺑﺎﻻﺳﻼﻡ ﻓﻬﻞ ﻳﺠﻮﺯﺫﻟﻚ ﻟﺘﻠﻚ ﺍﻟﻤﻨﻔﻌﺔ ﻭﺍﻟﻤﺼﻠﺤﺔ ﺃﻭﻻ ﻭﻫﻞ ﻫﺆﻻﺀﺍﻟﻜﻔﺎﺭ ﻳﻘﺎﻝ ﻓﻴﻬﻢ ﺃﻧﻬﻢ ﺣﺮﺑﻴﻴﻮﻥ ﻟﻜﻮﻧﻬﻢ ﻟﻴﺴﻮﺍ ﻣﻦ ﺍﻫﻞ ﺍﻟﺬﻣﺔ ﻭﻣﺎ ﺣﻜﻢ ﺍﻻﻣﻮﺍﻝ ﺍﻟﺘﻲ ﻳﺆﺩﻭﻧﻬﺎ ﻛﻞ ﺳﻨﺔ ﻫﻞ ﻫﻲ ﻏﻨﻴﻤﺔ ﺍﻡ ﻻ ﻭﻫﻞ ﻳﺠﻮﺯ ﻟﻤﻦ ﺍﻋﻄﻲ ﻣﻦ ﺍﻟﻔﻘﺮﺍﺀ ﺷﻴﺄ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ ﺍﺧﺪﻩ ﺍﻭﻻ ﺍﻓﺘﻮﻧﺎ ‏( ﺍﻟﺠﻮﺍﺏ ‏) ﺍﻟﻲ ﺍﻥ ﻗﺎﻝ …. ﻭﻗﻮﻝ ﺍﻟﺴﺎﺋﻞ ﻭﻫﻞ ﻫﺆﻻﺀ ﺍﻟﻜﻔﺎﺭ ﻳﻘﺎﻝ ﺍﻧﻬﻢ ﺣﺮﺑﻴﻴﻮﻥ ﺍﻟﺦ …. ﺍﻥ ﺍﺭﺍﺩ ﺍﻧﻪ ﻳﺠﻮﺯ ﻗﺘﻠﻬﻢ ﻭﺍﻏﺘﻴﺎﻟﻬﻢ ﻟﻜﻮﻧﻬﻢ ﻟﻴﺴﻮﺍ ﺑﺎﻫﻞ ﺍﻟﺪﻣﺔ ﻓﻠﻴﺲ ﻛﺬﻟﻚ ﺑﻞ ﺫﻣﺔ ﺍﻟﺘﺄﻣﻴﻦ ﻣﻦ ﺍﻻﻣﺎﻡ . ﺍﻫـ

ﺑﻐﻴﺔ ﺍﻟﻤﺴﺘﺮﺷﺪﻳﻦ (ص ٥٤٣)
ﻭﻟﻮ ﺩﺧﻞ ﺍﻟﻜﻔﺎﺭ ﺑﻼﺩﻧﺎ ﻟﺘﺠﺎﺭﺓ ﻭﺃﻗﺎﻣﻮﺍ ﺳﻨﻴﻦ ﻭﻋﻠﻢ ﺍﻟﺴﻠﻄﺎﻥ ﻭﺳﻜﺖ ﻓﻠﻢ ﻳﻨﻬﻬﻢ ﻭﻻ ﺃﻣﺮﻫﻢ ﻟﻜﻨﻪ ﻧﻬﻰ ﻋﻦ ﻇﻠﻤﻬﻢ ﻭﻗﺘﻠﻬﻢ ، ﻓﺎﻟﺬﻱ ﻳﻈﻬﺮ ﺃﻧﻪ ﺣﻴﺚ ﺩﺧﻠﻮﺍ ﻣﻌﺘﻤﺪﻳﻦ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻌﺎﺩﺓ ﺍﻟﻤﻄﺮﺩﺓ ﻣﻦ ﻣﻨﻊ ﺍﻟﺴﻠﻄﺎﻥ ﻣﻦ ﺃﺧﺬ ﺃﻣﻮﺍﻟﻬﻢ ﻭﻗﺘﻞ ﻧﻔﻮﺳﻬﻢ ﻭﻇﻨﻮﺍ ﺃﻥ ﺫﻟﻚ ﻋﻘﺪ ﻣﺄﻣﻦ ﺻﺤﻴﺢ ﻟﻢ ﻳﺠﺰ ﺍﻏﺘﻴﺎﻟﻬﻢ ﻭﻟﻮ ﺑﺴﺒﺐ ﺩﻳﻦ ﻋﻠﻴﻬﻢ ، ﺑﻞ ﻳﺠﺐ ﺗﺒﻠﻴﻐﻬﻢ ﺍﻟﻤﺄﻣﻦ ، ﻭﺇﻥ ﺍﻧﺘﻔﻰ ﺷﺮﻁ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ ﺟﺎﺯ ﺍﻻﻏﺘﻴﺎﻝ ﻭﺍﻹﺭﻗﺎﻕ ﻣﻄﻠﻘﺎً .

ﺗﻔﺴﻴﺮ ﺍﻟﻔﺨﺮ ﺍﻟﺮﺍﺯﻯ ( ج ١ ص ١١٢)
ﻭﺍﻋﻠﻢ ﺃﻥ ﻛﻮﻥ ﺍﻟﻤﺆﻣﻦ ﻣﻮﺍﻟﻴﺎً ﻟﻠﻜﺎﻓﺮ ﻳﺤﺘﻤﻞ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻭﺟﻪ ﺃﺣﺪﻫﺎ : ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺭﺍﺿﻴﺎً ﺑﻜﻔﺮﻩ ﻭﻳﺘﻮﻻﻩ ﻷﺟﻠﻪ ، ﻭﻫﺬﺍ ﻣﻤﻨﻮﻉ ﻣﻨﻪ ﻷﻥ ﻛﻞ ﻣﻦ ﻓﻌﻞ ﺫﻟﻚ ﻛﺎﻥ ﻣﺼﻮﺑﺎً ﻟﻪ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﺪﻳﻦ ، ﻭﺗﺼﻮﻳﺐ ﺍﻟﻜﻔﺮ ﻛﻔﺮ ﻭﺍﻟﺮﺿﺎ ﺑﺎﻟﻜﻔﺮ ﻛﻔﺮ ، ﻓﻴﺴﺘﺤﻴﻞ ﺃﻥ ﻳﺒﻘﻰ ﻣﺆﻣﻨﺎً ﻣﻊ ﻛﻮﻧﻪ ﺑﻬﺬﻩ ﺍﻟﺼﻔﺔ . ﻓﺈﻥ ﻗﻴﻞ : ﺃﻟﻴﺲ ﺃﻧﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻗﺎﻝ : } ﻭَﻣَﻦ ﻳَﻔْﻌَﻞْ ﺫَﺍﻟِﻚَ ﻓَﻠَﻴْﺲَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻓِﻲ ﺷَﻰْﺀٍ { ﻭﻫﺬﺍ ﻻ ﻳﻮﺟﺐ ﺍﻟﻜﻔﺮ ﻓﻼ ﻳﻜﻮﻥ ﺩﺍﺧﻼً ﺗﺤﺖ ﻫﺬﻩ ﺍﻵﻳﺔ ، ﻷﻧﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻗﺎﻝ } : ﺫَﺍﻟِﻚَ ﺑِﺄَﻥَّ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻛَﻔَﺮُﻭﺍ { ﻓﻼ ﺑﺪ ﻭﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺧﻄﺎﺑﺎً ﻓﻲ ﺷﻲﺀ ﻳﺒﻘﻰ ﺍﻟﻤﺆﻣﻦ ﻣﻌﻪ ﻣﺆﻣﻨﺎً ﻭﺛﺎﻧﻴﻬﺎ : ﺍﻟﻤﻌﺎﺷﺮﺓ ﺍﻟﺠﻤﻴﻠﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﺑﺤﺴﺐ ﺍﻟﻈﺎﻫﺮ ، ﻭﺫﻟﻚ ﻏﻴﺮ ﻣﻤﻨﻮﻉ ﻣﻨﻪ .
ﻭﺍﻟﻘﺴﻢ ﺍﻟﺜﺎﻟﺚ : ﻭﻫﻮ ﻛﺎﻟﻤﺘﻮﺳﻂ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﻘﺴﻤﻴﻦ ﺍﻷﻭﻟﻴﻦ ﻫﻮ ﺃﻥ ﻣﻮﺍﻻﺓ ﺍﻟﻜﻔﺎﺭ ﺑﻤﻌﻨﻰ ﺍﻟﺮﻛﻮﻥ ﺇﻟﻴﻬﻢ ﻭﺍﻟﻤﻌﻮﻧﺔ ، ﻭﺍﻟﻤﻈﺎﻫﺮﺓ ، ﻭﺍﻟﻨﺼﺮﺓ ﺇﻣﺎ ﺑﺴﺒﺐ ﺍﻟﻘﺮﺍﺑﺔ ، ﺃﻭ ﺑﺴﺒﺐ ﺍﻟﻤﺤﺒﺔ ﻣﻊ ﺍﻋﺘﻘﺎﺩ ﺃﻥ ﺩﻳﻨﻪ ﺑﺎﻃﻞ ﻓﻬﺬﺍ ﻻ ﻳﻮﺟﺐ ﺍﻟﻜﻔﺮ ﺇﻻ ﺃﻧﻪ ﻣﻨﻬﻲ ﻋﻨﻪ ، ﻷﻥ ﺍﻟﻤﻮﺍﻻﺓ ﺑﻬﺬﺍ ﺍﻟﻤﻌﻨﻰ ﻗﺪ ﺗﺠﺮﻩ ﺇﻟﻰ ﺍﺳﺘﺤﺴﺎﻥ ﻃﺮﻳﻘﺘﻪ ﻭﺍﻟﺮﺿﺎ ﺑﺪﻳﻨﻪ ، ﻭﺫﻟﻚ ﻳﺨﺮﺟﻪ ﻋﻦ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﻓﻼ ﺟﺮﻡ ﻫﺪﺩ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻓﻴﻪ ﻓﻘﺎﻝ } : ﻭَﻣَﻦ ﻳَﻔْﻌَﻞْ ﺫَﺍﻟِﻚَ ﻓَﻠَﻴْﺲَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻓِﻲ ﺷَﻰْﺀٍ } .

ﺍﻟْﺂﺩَﺍﺏِ ﺍﻟﺸَّﺮْعية (ج ٣ ص ١٢٠-١٢٢)
(ﻓَﺼْﻞٌ ‏)ﺩُﺧُﻮﻝُ ﻣَﻌَﺎﺑِﺪِ ﺍﻟْﻜُﻔَّﺎﺭِ ﻭَﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓُ ﻓِﻴﻬَﺎ ﻭَﺷُﻬُﻮﺩُ ﺃَﻋْﻴَﺎﺩِهم . ﻭَﻟَﻪُ ﺩُﺧُﻮﻝُ ﺑِﻴﻌَﺔٍ ﻭَﻛَﻨِﻴﺴَﺔٍ ﻭَﻧَﺤْﻮِهما ﻭَﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓُ ﻓِﻲ ﺫَﻟِﻚَ ﻭَﻋَﻨْﻪُ ، ﻳُﻜْﺮَﻩُ ﺇﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﺛَﻢَّ ﺻُﻮﺭَﺓٌ ، ﻭَﻗِﻴﻞَ : ﻣُﻄْﻠَﻘًﺎ.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*